AUM DAN BIODATA DALAM KONSELING

Oleh

IMG_3394

Kosmas Takung

Pengawas BK Dinas PPO Manggarai

Layanan Konseling adalah wajib.UU 20/2003 tentang Siskdiknas sebagai regulasi yang paling mendasarinya yakni Bab I Pasal 1 ayat (6) Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Permendiknas 22/2006 tentang Standar Isi yang memuat Mata Pelajaran, Muatan Lokal dan Pengembangan Diri yang terdiri dari Kegiatan Layanan Konseling dan Ekstrakurikuler,menyatakannya, apalagi dikuti Permendiknas 27/2008 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Konselor Sekolah,PP 74/2008 tentang Guru, dan regulasi-regulasi lainnya.Semoga saja, para pengambil  keputusan cermati sungguh apa yang dirancang dalam regulasi- regulasi ini, dan mempraktekkannya dalam kebijakan-kebijakan pendidikan.

Membandingkan dengan mata pelajaran yang memiliki silabus, SK,KD, dan materi ajar untuk dibelajarkan di sekolah, layanan Bimbingan dan Konseling hanya menetapkan bahwa kegiatannya  berkaitan dengan aktivitas belajar, karir , sosial dan pribadi. Bimbingan belajar misalnya antara lain tentang  cara membaca buku,mengikuti kegiatan belajar mengajar, dan menyiapkan diri menghadapi ujian, sedangkan bimbingan karir antara lain dapat berupa  mengenal minat, bakat, kemampuan, kepribadian, pengetahuan, ketrampilan dan kesehatan serta dunia kerja.Sedangkan bimbingan sosial antara lain berupa pengenalan akan keragaman suku dan budaya,sikap sosial, dan kemampuan bersosialisasi, dan  bimbingan pribadi antara lain berupa sikap dan kepribadian yang agamis, kemampuan dan potensi diri serta pengembangannya, bakat dan minat yang dimiliki serta penyalurannya, kelebihan-kelebihan yang dimiliki serta bagaimana mengembangkannya,  kekurangan dan kelemahan yang dimiliki serta bagaimana mengatasinya, mengambil keputusan serta mengarahkan diri, dan perencanaan dan pelaksanaan hidup sehat, kreatif, dan produktif.

Bagi guru BK yang diatur dalam  PP 74 Tahun 2008 tentang Guru, salah tugas pokoknya adalah   melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling untuk peserta didik yang diasuh dengan jumlah antara 150-200 orang dengan pendekatan direktif(directive approach-nya Edmon G.Wiliamson),non-direktif(Nondirective /Client Centered Therapy-nya Carl Rogers), dan eklektik( Ecclectic Aproach  yang diperkenalkan Frederick  Thorne).

Memaknai hakekat Bimbingan dan Konseling sebagai proses bantuan psikologis,seorang Guru Pembimbing wajib memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Psikologi umum dan sejumlah psikologi khusus seperti antara lain  psikologi perkembangan, dan psikologi abnormal. Dengan demikian, Guru BK akan mampu dengan mudah mengenal dan dekat dengan siswa, mudah mendiagnosa dan dapat membantu mereka dengan therapi yang tepat dalam menolong mengenal potensi dirinya, mampu mengarahkan diri untuk keluar dari masalahnya, dan sukses dalam pendidikan.

AUM  dan Biodata

Sertiap pribadi siswa adalah unik, masing-masing memiliki kekhususan.Tugas seorang konselor adalah memahami mereka satu per satu secara individual, sehingga dapat berkomunikasi dan membantu para siswa mengarahkan diri dan sukses dalam pendidikan.Adalah Prayitno ,dkk telah menyusun sebuah instrument untuk mengenal anak/peserta didik, walaupun tidak memastikannya. Instrumen ini dikenal sebagai Alat Ungkap Masalah(AUM) . Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli,yakniJasmani dan Kesehatan (JDK),Diri Pribadi (DPI), Hubungan Sosial (HSO), Ekonomi dan Keuangan (EKD),Karier dan Pekerjaan (KDP),Pendidikan dan Pelajaran (PDP), Agama, Nilai dan Moral (ANM),Hubungan Muda Mudi (HMM),Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK),dan Waktu Senggang (WSG). Jumlah keseluruhan item sebanyak 225.Tugas guru Konselor  sekolah adalah membimbing setiap siswa mengisinya sesuai fakta yang sedang dialaminya.Mekanismenya dapat diatur sendiri oleh masing-masing guru Pembimbing untuk setiap individu siswa.Data ini dapat direkap oleh guru Pembimbing dan dapat dijadikan sebagai salah satu materi layanan Bimbinagn dan konseling setiap siswa dikonseling secara individual.

 

Sedangkan biodata sebagaimana  yang wajib diisi oleh setiap siswa di awal tahun pelajaran, merupakan data otentik masing-masing mereka, yang isinya antara lain tentang diri pribadi, keluarga, dan hubungan sosialnya.Biodata singkat ini akan sangat berarti bagi seorang guru Pembimbing dan sekolah dalam mengenal siswa lebih dekat.Biodata akan menginformasikan sekilas tentang siswa, dan oleh seorang guru Pembimbing dapat dijadikan sebagai salah satu materi dalam melaksanakan konseling.Biodata akan sangat menolong guru BK tatkala dalam konseling menemui kesulitan menghadapi siswa yang sangat sulit berkomunikasi lisan bahkan introvert.

MENYOROTI NILAI PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

Oleh

Leonel De Morin

Guru SMA St.Thomas Aquinas Ruteng

 

Tak terbantahkan bahwa pendidikan merupakan usaha yang meningkatkan kualitas pribadi, baik pengetahuan, keterampilan, dan sikap.Pendidikan membentuk manusia yang utuh sehingga selalu dapat menyesuaikan diri.

 

Situasi sosial, kultural masyarakat kita akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan.Praktek demoralisasi dan dehumanisasi  terjadi di seluruh aspek dan bidang kehidupan  seperti perilaku keji pembunuhan, pemerkosaan dan korupsi kian kronis hingga mendera bangsa ini dari waktu ke waktu.Pendidikan digugat. Ada apa dengan pendidikan kita sehingga manusia dewasa yang telah lepas dari lembaga pendidikan formal tidak mampu menghidupi gerak dan dinamika masyarakat yang lebih membawa kebaikan bagi semua orang?

Kenyataan yang terjadi dewasa ini adalah meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, membudayanya ketidakjujuran, dan lain sebagainya. Mungkin kita cuma bisa bertanya dan menggelengkan kepala soal output pendidikan formal negeri ini yang justru bertolak belakang dengan tujuan pendidikan itu sendiri, sementara kita kerap mengabaikan fungsi keluarga.

Salah satu fungsi keluarga yang harus diprioritaskan adalah peran pendidikan dalam keluarga yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan manusia karena dalam keluargalah manusia pertama kali mengalami kontak sosial, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkah sifat ingin tahu dan semua ini sangat berguna bagi perkembangan pendidikan formal disekolah.

Orang tua dan keluarga memiliki dampak yang paling langsung dan abadi terhadap tumbuh kembang anak. Pendidikan dalam keluarga yang baik dan positif akan membawa anak pada pengembangan potensi social yang positif dan akan memberikan dampak pada perilaku yang jauh lebih baik dan mudah bergaul dalam lingkungan yang baru, serta membuat anak-anak merasa nyaman dan aman terhadap setiap perubahan yang mereka hadapi. Dengan kata lain Pendidikan harus dilakukan secara kooperatif antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan terpenting, karena keluargalah pondasi utama pembentukan Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ).

Filsafat pendidikan telah menunjukkan kepada kita bahwa proses pendidikan berjalan dalam empat tahap,mulai dari memelihara;merawat dan mengasuh; membiasakan; mengajar; serta , membina sikap hidup. Dari keempat tahapan tersebut pendidikan formal di sekolah merupakan tahap ketiga setelah melewati proses pendidikan dalam keluarga dan sekolah pada dasarnya hanya menampung siswa yang wataknya telah terbentuk, sekolah hanya berfungsi mengarahkan, selebihnya tergantung pada karakter yang telah tumbuh dalam diri si anak. di sekolah anak mendapat bekal pengetahuaan, sedangkan di lingkungan sosial dan keluarga diharapkan mendapatkan dukungan terhadap kelangsungan pendidikan anak. Dari sini jelas bahwa perkembangan kepribadian anak bermula dari keluarga, dengan cara anak mengambil nilai-nilai yang ditanamkan orang tua baik secara sadar maupun tidak sadar.

Keluarga merupakan tempat pertama sebagai sumber sosialisasi bagi anak. Bentuknya bisa melalui perhatian, karena dengan perhatian yang baik, anak akan merasa dibutuhkan dan berharga dalam keluarga. Anak akan menganggap bahwa keluarga merupakan bagian dari dirinya yang sangat dibutuhkan dalam segala hal. Sebaliknya hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Tidak jarang anak terjerumus ke hal-hal negatif dengan alasan orang tua kurang memberikan perhatian kepada anak. Orang tua mempunyai peran yang strategis dalam membentuk keperibadian anak, jika yang berperan besar dalam pengaturan pendidikan dan sifat anak adalah orang tua, diharapkan penanaman nilai-nilai kepada anak akan tepat, karena mereka mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak mereka. Orangtualah yang pertama kali bertanggungjawab terhadap perilaku anaknya. Jadi, orang tua seharusnya tidak hanya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak kepada lembaga pendidikan atau sekolah karena hal tersebut adalah sebuah kesalahan yang cukup fatal mengingat waktu anak berada di sekolah lebih kecil ketimbang waktu anak di luar sekolah (rumah atau masyarakat).

Semoga.

MENAKAR KOMITMEN GURU PROFESIONAL

Sedikit Tnjauan Moral Atas Profesi Guru

Oleh

Valentinus Vitalis Jebagu

Guru Agama Katolik SMAN 2 Langke Rembong Manggarai

Satu-satunya kegiatan yang dapat dipertaruhkan dalam memanusiakan manusia adalah pendidikan. Pendidikan memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Dalam konteks pendidikan, guru mempunyai peran penting melahirkan sebuah peradaban serta menentukan arah kemajuan suatu bangsa. Guru bak pembawa cahaya di tengah kegelapan dan kesumpekan nalar yang buntu berpikir. Di tangan guru anak-anak bangsa ini melek aksara dan bisa berhitung.

Guru adalah profesi untuk memberikan pengabdian kepada sesama, darinya sangat dituntut seperangkat keterampilan dan kemampuan khusus. Howard M. Vollmer dan Donald L. Mills (1966) mengatakan profesi adalah sebuah jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus, yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan yang bertujuan untuk menguasai keahlian dalam melayani. Sejalan dengan pikiran ini, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 1 menyebutkan kompetensi guru “pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Keempat kompetensi ini merupakan elemen inti, mutlak dimiliki para guru profesional. Guru penyandang profesi dapat disebut profesional manakala dia sadar dan yakin bahwa elemen-elemen itu menyatu dengan dirinya, membentuk identitas dirinya serentak.

Guru adalah pekerjaan  profesional, sebagaimana ditegaskan UU 14 /2005 tentang Guru dan Dosen Psl 1 ayat (1) “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Dalam menunaikan tugasnya itu, guru tidak cuma mengandalkan kemampuan akademik dengan penguasaan IPTEK yang cemerlang, namun mempunyai komitmen moral, melibatkan komitmen pribadi yang mendalam atas tugas itu,sebagaimana Jegalus (2009) mengatakannya. Guru akan  merasa bersalah kalau berbuat tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, khususnya nilai yang melekat pada profesinya.

Mengklaim guru profesional, namun minim tanggung jawab, minim pengabdian, minim disiplin, minim kerja sama, minim keteladanan, mencerminkan buruknya moral serta menafikan profesi guru. Guru profesional adalah pembelajar sejati yang menjunjung tinggi moral dalam bekerja. Ia menjadi panutan. Ia tidak mereduksi profesionalitas hanya dalam ruang-ruang hampa, tetapi ia selalu melaraskan keahliannya sesuai tuntutan zaman dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Suatu yang sangat disesalkan jika dalam menjalankan tugasnya mengabaikan aspek moral, justru merugikan serentak merusak citra profesi itu sendiri. Karenanya, guru profesional sebaiknya menjauhkan diri dari tindakan yang merusak citra dan martabat profesi guru Sebab perilaku yang kerap bertentangan dengan profesi, akan menodai citra profesi untuk kian merosot sebagaimana dikatakan Djiwandono dalam Supratiknya (2011).

Salah satu faktor menjadi penyebab merosotnya citra guru ialah guru sendiri belum maksimal meningkatkan kompetensinya. Masih ada kesenjangan antara kesejahteraan yang berangsur-angsur membaik di satu sisi, namun di sisi lain belum sepadan dengan peningkatan kompetensi secara proporsional. Sorotan serta keluhan terhadap guru, disebabkan karena belum mampu mengimbangi serta benar-benar membuktikan komitmen ke arah peningkatkan kompetensi di tengah semakin besarnya perhargaan pemerintah terhadap profesi guru. Guru menginginkan agar TPG (tunjangan lainnya) tetap aman dan tidak diganggu, tetapi pada saat yang sama ketika ada UKG, PLPG atau apapun yang merupakan rangkaian peningkatan kompetensi guru justru dianggap beban, yang melahirkan mekanisme pertahan diri.

Secara moral guru harus terpanggil ke dalam profesi itu, bukan pertama-tama karena TPG atau tergiur gaji tinggi, melainkan sebuah pengabdian yang luhur kepada ibu pertiwi. Guru akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin, meskipun kurang menguntungkan secara ekonomis. Guru harus lebih mengutamakan pengabdian sebagai ekspresi rasa cintanya kepada anak-anak bangsa ini. Guru tidak puas kalau pekerjaannya belum diselesaikan dengan baik. Komitmen moral seperti inilah yang akan melahirkan tanggung jawab yang besar dan mendalam atas pekerjaan seorang guru profesional.

MENELISIK KEKHASAN DAN KECONDONGAN PEMBELAJARAN  PENDIDKAN AGAMA KATOLIK

Refleksi Praksis Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik

Oleh

 

Valentinus Vitalis Jebagu,S.Ag,M.Th

Guru SMAN 2 Langke Rembong Manggarai

 

Pendidikan Agama Katolik (PAK) adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan para siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kehidupan siswa, PAK memiliki peran strategis bagi dirinya, karena siswa dibantu untuk menjadi pribadi yang dewasa dan menemukan makna hidupnya. Tujuannya adalah membangun hidup yang semakin beriman.

Penekanan pada hidup beriman merupakan kekhasannya (imperatif), sehingga seluruh pembelajaran mengarah dan bermuara ke sana. Karenanya, pembelajaran PAK adalah mengajarkan keimanan, sikap-sikap hidup yang menjadi sikap siswa sehari-hari. Yang esensi ialah iman memotivasi siswa untuk bertindak. Sebab tidak ada gunanya mengetahui segalanya, tetapi tidak melakukannya ( Bandingkan Yak 2:7).

PAK bukan hanya mengetengahkan ajaran dogma yang dihafalkan, bukanlah hasil akhir yang dituju agar siswa mahir menguasai ajaran iman dengan mengintepretasikan, menganalisa dan membuat sintesa secara bertanggung jawab, tetapi mewujudkan sikap beriman. Jauh lebih penting ialah apakah siswa mampu bertindak sesuai ajaran iman.

Iman sebagai sikap dasar adalah kekhasan, yang harus menjadi fokus dan porsinya lebih besar diberikan serta ditekan oleh  guru dalam pembelajaran. harus sampai pada penerapannya.

Proses pembelajaran yang menekankan aspek kognitif merupakan kecondongan yang umumnya terjadi. Memang hal ini tidak sepenuhnya menjadi kelalaian guru PAK semata, tetapi struktur kurikulum yang memungkinkan itu terjadi demikian. Misalnya, cakupan materi begitu luas dengan alokasi waktu terbatas menyebabkan guru PAK tergesa-gesa dalam pembelajaran. Guru masih berkutat seputar pengembangan daya kritis siswa, terfokus pada penguasaan konsep dan teori yang bersifat abstrak serta daya serap siswa terhadap materi. Guru lebih mengejar materi dan kemampuan intelektual yang dipercayai sebagai jalan memperbaiki carut-marut bangsa ini lebih dikedepankan, sedangkan perhatian terhadap perubahan perilaku siswa sebagai hal yang hakiki, belum dioptimalkan. Orientasinya pun bergeser, asal siswa lulus raih nilai tinggi serta miliki ijazah, bukan lagi sikap iman atau perilaku beriman. Begitu pentingnya kelulusan, tetapi tak jarang mengabaikan sikap dan perilaku. Oleh karena itu, seluruh perhatian, pikiran, tenaga, waktu dan dana pun dikerahkan untuk mencapai tujuan itu.

Tingkat penguasaan siswa terhadap pengetahuan agamanya bagus, namun perilakunya tidak mencerminkan kebenaran-kebenaran yang diimani. Para guru belum konsisten memosisikan PAK sebagai medium membina iman siswa. Sekalipun aspek itu ada, masih samar-samar. Ada sinyal sekaligus harapan menuju ke arah sana, namun sejauh ini belum dinyatakan secara terang benderang. Diperparah lagi oleh kurang konsistennya perilaku siswa terhadap apa yang ia tahu dengan apa yang seharusnya ia lakukan dalam tindakan nyata masih terlalu menjaga jarak.

Pengalaman menunjukkan bahwa pembelajaran PAK  hanya memindahkan pengetahuan ke kepala siswa,kurang memperhatikan unsur  perubahan perilaku. Yang diajarkan itu hanya untuk otak, kurang merubah perilaku siswa, sehingga terjadi kesenjangan antara pengetahuan yang dikuasai dengan perilaku sehari-hari. Banyak siswa menjadi pintar tetapi tidak memiliki etika dan perilaku yang sepadan dengan kepintarannya (Riberu, 2011). Kesenjangan menggambarkan kepincangan  pembelajaran PAK di sekolah.

Pembelajaran PAK belumlah selesai dengan meluluskan siswa yang mempunyai wawasan cemerlang serta tangguh dalam iman. Tugas selanjutnya ialah bagaimana siswa dapat hidup berdampingan secara damai, bertoleransi, menjunjung tinggi pluralisme, menjaga kerukunan, toleran terhadap agama dan suku, serta mewujudkan persaudaraan sejati. Jadi, tidak hanya memperteguh iman dan ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Pembelajaran PAK harus betul-betul menjadi dasar hidup yang kelak mempedomani siswa memasuki kancah masyarakat majemuk. Bila tidak ada dasar yang kuat, maka setelah dewasa apa yang ia ketahui dan bagaimana ia menerapkan dalam hidupnya juga tidak kuat sebagaimana  Amsal 22:6”Didiklah kaum muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak menyimpang daripada jalan itu”.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA PADA SISWA KELAS 5 SD

Oleh

Yustina Renggong,S.Pd

Kepala SDI Popok Manggarai

Menurut Susilana dan Riyana , pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan  seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai – nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah  terjadinya proses belajar.

Dalam proses pembelajaran guru merupakan komponen yang sangat penting, memiliki tugas  sebagai penyampai materi, fasiltator, motivator dan lain-lain.. Efektivitas atau tidaknya suatu proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kompetensi atau kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Guru yang  menerapkan strategi, metode dan media yang tepat dapat membangkitkan minat dan keaktifan siswa.

IPA  merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara mencari tahu alam secara sistematis. IPA bukan hanya  sekumpulan ilmu pengetahuan   berupa fakta, konsep, ataupun prinsip tetapi juga merupakan sebuah proses penemuan. Sehingga siswa diharapkan melihat IPA sebagai sebuah wahana untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar,dan dipraktekkan  dalam kehidupan sehari – hari. Juga pembelajaran IPA lebih menekankan  pada pemberian pengalaman secara langsung untuk mengembangkan kompetensi agar dapat menjelajah  dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Kegiatan pembelajaran  IPA wajib  mengaitkan antara materi pembelajaran dengan kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan siswa, sehingga dapat dimanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari..

Prakteknya, pembelajaran IPA kadang-kadang dinilai sebagai mata pelajaran sulit, sebagaimana yang dialami penulis mengajarkan Cahaya untuk kelas V di SDI Popok Manggarai.  80% siswa belum memahami materi sifat – sifat cahaya dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya hasil belajar siswa, serta siswa tidak menunjukkan keaktifan dan kekreatifannya dalam proses pembelajaran. Selain rendahnya hasil belajar, terdapat 80% siswa yang belum  mencapai KKM (60) yang telah ditetapkan  sekolah untuk mata pelajaran ini.

Menurut analisa penulis,  terdapat beberapa penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada materi ini san.Pertama, karena materi belajarnya  abstrak, dalam arti guru menyajikan materi pembelajaran tanpa media. Kedua pembelajaran hanya berlangsung satu arah sehingga siswa tidak kreatif  dan aktif, karena  guru berperan sebagai penceramah saja tanpa melibatkan siswa KBM.

Berdasarkan hasil analisis di atas, penulis memberikan sebuah solusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ini dengan penggunaan media gambar. Media gambar dilengkapi warna – warna yang menarik perhatian.Penggunaan media gambar dalam mempelajari materi sifat-sifat cahaya ini juga akan meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa dalam pembelajaran, sehingga  hasil belajar siswa  meningkat.

Adapun langkah- langkah penerapan media gambar pada materi sifat-sifat cahaya adalah sbb:Pertama,guru membagi siswa kedalam 4 kelompok dan tiap-tiap kelompok terdiri dari 7 siswa. Penentuan siswa dalam kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan siswa dalam pembelajaran IPA. Ke dua,  menyiapkan media pembelajaran yaitu media Gambar yang terdiri dari gambar beberapa sifat cahaya. Kedua, menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan yakni karton, pensil, senter,plastik bening, kertas merah, gelas berisi air, dan lembar kerja siswa. Ke tiga, guru menjelaskan sifat-sifat Di sini guru harus benar-benar memanfaatkan media gambar dalam menjelaskan materi. Ke empat, guru meminta siswa melakukan praktikum tentang sifat-sifat cahaya menggunakan alat dan bahan yang telah disiapkan dengan berpedoman pada media gambar.Ke enam, siswa mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas.

Alhasil, 95 % siswa telah menguasai materi sifat-sifat cahaya. Hal ini diketahui dari hasil ulangan yang diberikan setelah proses pembelajaran berlangsung. Selain itu siswa terlihat sangat berkonsentrasi dan sangat senang dalam mempelajari materi ini, bahkan materi ini menjadi materi favorit siswa kelas V SDI Popok. 26 dari 28 siswa telah mencapai KKM yang telah ditetapkan dan ada beberapa  siswa memperoleh  nilai sempurna, dan hanya 2 orang yang mendapat nilai di bawah KKM.

Sebagai guru, kita wajib memahami kharakteristik materi untuk menentukan media pembelajaran yang tepat dan sesuai sehingga materi ajar bermakna.

Semoga.

DRUMBAND,  MATERI ALTERNATIF LAYANAN BIMBINGAN KARIR DI SEKOLAH

Oleh

IMG_3394

Kosmas Takung

Pengawas BK Dinas PPO Manggarai

Wulan (Ni Komang Triwulandari) yang dibantu dua rekannya, Angelia K.L.Tjangkung ( Angelia), dan Maria O.E.Onci( Flani) , adalah mayoret drum band yang memimpin  99 teman mereka dari SMAN 1 Langke Rembong Manggarai dalam display yang  yang berhasil memukau petinggi daerah Manggarai dan ribuan warga masyarakat setempat pada karnaval memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke- 71 tingkat Kabupaten ,Sabtu, 20 Agustus 2016 di Ruteng.

Kepiwaian ketiga siswi cantik yang mewakili 1485 peserta didik SMA Negeri 1 Langke Rembong ini konon  karena sejak SMP mereka terbiasa menjadi mayoret drumband sekolah.Kepala SMAN 1 Langke Rembong Manggarai, Kalixtus Kasse mengakui bahwa ketiga putri cantik sekolahnya ini, sangat berbakat di bidang seni,berkepribadian baik, dan kemampuan akademik pun tak kalah, karena kebiasaan mereka sejak SMP.

Bakat seni Wulan,Angelia dan Flani lahir dari dalam diri dan keluarga, diteruskan sekolah dengan menyiapkan sejumlah kegiatan ekstra yang memungkinkan mereka mampu menyalurkan bakat yang dimiliki.Ketiganya mampu menyatakan diri dengan mengekspresikannya dalam karya seni sebagaimana yang dikemukakan Abraham Maslow dengan theori Need-nya.

Di sekolah,aktualisasi diri siswa tersalurkan melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.Para siswa  mengalami kegiatan pembelajaran ketika terciptanya  suasana kondusif melalui pendekatan-pendekatan pembelajaran kontekstual untuk menghindari verbalisme.

Aktivitas drumband di sekolah merupakan bagian dari  kegiatan pengembangan diri, diatur dengan Pemrnediknas 22 tahun 2006 tentang Standar Isi KTSP dalam bentuk  kegiatan ekstrakurikuler dan layanan Bimbingan dan Konseling.Karena itu,kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan wajib yang dilaksanakan di sekolah,sehingga semua siswa wajib diikutsertakan pada sejumlah aktivitas yang disiapkan sekolah seperti olahraga, musik dan seni,majalah dinding , dan lain-lain.Manfaatnya antara lain meningkatnya ketrampilan siswa dalam berorganisasi,menjadi pemimpin,mampu bersosialisasi,menghargai diri sendiri dan orang lain,berkompetisi sehat, menyiapakan karir dasar,bertanggung  jawab dan berwawasan luas, aktif, kerja sama tim,menyalurkan energi dan kreativitas,mengurangi risiko stres,dan belajar manajemen waktu.  Dan,ketiga mayoret SMAN 1 Langke Rembong telah membuktikannya

Kegiatan ekstrakurikuler, pada sekolah terttentu, kadang dilihat sebagai kegiatan tambahan pilihan.Dalam prakteknya,kurang diperhatikan karena cenderung dimanfaatkannya waktu sore hari untuk kegiatan belajar mengajar.Buktinya bahwa masih demikain banyak sekolah yang menyelenggarakan KBM pagi dan siang hari,mengurangi bahkan menghilangkan waktu untuk penyelenggaran kegiatan eklstrakurikuler.Pahal, waktu yang idela untuk mkegiatan yang wajib diikuti peserat didik ini adalah sore hari/ waktu di luar KBM.

Pembiayaan kegiatan ekstrakurikuler, dapat dilakukan orang tua siswa mendukung pemanfaatan BOS, yang dalam tahun 2016 diatur dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 16            Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 80 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dan Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional Sekolah.

Regulasi ini antara lain menyebutkan biaya untuk menyelenggarakan kegiatan pembinaan siswa melalui ekstra kurikuler seperti OSIS, Pramuka, PMR, UKS, KIR, dan lainnya,dan ekstra kurikuler olahraga dan kesenian antara lain: voli, pencak silat, karate, seni tari, marching band dan lainnya

Bagi guru Bimbingan dan Konseling di sekolah,kegiatan ekstyrakurikuler, terutama drumband dapat dimanfaatkan sebagai salah satu materi kegiatan layanan bimbingan karier, yang menurut Winkel (2005:114)sebagai  bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih lapangan kerja atau jabatan /profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapanan pekerjaan yang dimasuki dengan prinsip bahwa seluruh siswa hendaknya mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Tugas sekolah adalah menyiapkan guru BK yang memenuhi syarat , dengan kualifikasi dan kompetensi sebagaimana diatur dengan Permendiknas 27 /2008 yang memiliki  kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan  profesional sebagaimana guru kelas dan guru mata pelajaran yang diatur dengan Permendiknas 16 /2007Guru BK n yang memenuhi syarat sesuai regulasi tersebut,yang  didukung dengan  keaktifan  dan kekonsistensiannya melaksanakan kegiatan PKB , akan mampu memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai salah satu alternatif pemberian layanan Bimbingan Karir di sekolah. (Kosmas Takung)

KOMPIANG MANGGARAI ,OZOKERIT RUANG GELAP PENDIDIKAN

Oleh

_dsc0109-2

Kosmas Takung

Pengawas BK Dinas PPO Manggarai

Surat Edaran Mendikbud  RI Nomor 19180/MPK AMS/2016 , 15 April 2016 tentang Pedoman Peringatan Hardiknas  2016, menyodorkan thema pokok Nyalakan Pelita Terangkan Cita-cita dengan subthema  mingguannya masing-masing.Subthema minggu pertama  adalah  Kembali Ke Sekolah, minggu ke dua tentang Ekspresi Merdeka, minggu ke tiga tentang  Anak Adalah Bintang, dan minggu ke empat tentang Semua Murid,Semua Guru. Puncak perayaannya dilaksanakan di Jakarta, 29 Mei 2016.SE ini  dtandatangani  Mendikbud, Anies Baswedan.

Hardiknas 2016 dirayakan sepanjang satu bulan, rupanya baru pertama kali di republik yang memprogramkan pendidikan bermutu untuk setiap  warganya.Mendikbud, Anies Baswedan melihat pentingnya sumber daya manusia sebagaimana disampaikannya  dalam pidato Hardiknas, 2 Mei 2015.”Aset terbesar bangsa ini adalah manusia Indonesia”, sebahagian  sambutan tertulisnya   kala itu.

Guru-guru  SM3T Manggarai   mengapresiasi  bulan pendidikan  tahun 2016.Jauh sebelum SE Mendikbud, sudah empat bulan para guru yang dikoordinatori Tukaryanto,S.Pd dari  LPTK UNNES  dan Irwanda T.Sudirman,S.Pd dari LPTK Unsyiah mendisain program yang membantu pembangunan pendidikan di  Manggarai.

Empat bulan sudah gemanya  di seluruh SD dan SMP/MTS Manggarai tatkala proposalnya  ditandatangani Kadis PPO, Adrianus A.Empang,S.Sos.Dalam catatan saya, saban tahun, mereka  selalu menampilkan ide-ide kreatif, kecuali tugas pokok mengajarnya di sekolah- sekolah, juga mendorong masyarakat berkreasi memanfaatkan bahan lokal untuk kebutuhan konsumsi sehari- hari seperti keripik singkong,lomba busana dan tarian kreasi baru Manggarai, dan tahun ini KOMPIANG .

Disadari bahwa dampak negatif kemajuan teknologi dewasa ini juga   mengganggu identitas,  apapun dan siapapun.Dalam bahasa syair lagu yang dilantunkan Dewi Yul “ Kau Bukan Dirimu”, bukan tidak mungkin mengancam identitas keaslian anak- anak muda termasuk siswa-siswi di sekolah.Sisi lainnya, kebijakan yang mengedepankan  otonomi, bukan tidak mungkin akan memunculkan sikap primardialisme  yang mengganggu sikap  nasionalisme.” Pengalaman kami selama 8 bulan berada di sekolah, para siswa sering berkomunikasi menggunakan bahasa Manggarai. KBM pun, demikian”, cerita guru-guru SM3T di Ruteng pekan ke tiga April.” Namun dalam mengerjakan soal- soal atau tugas kokurikuler, mereka  menyelesaikan soal-soal  dengan bahasa Indonesia yang baik.Mereka mampu berbahasa Indonesia, tetapi dalam berkomunikasi lisan,tidak nampak. “ cerita mereka lebih lanjut.

Untuk mengaktualisasikan kemampuan berbahasa Indonesia para siswa  harus dimulai dari sekolah, terutama tingkat SMP.Mereka diasah untuk berkomunikasi lisan dengan berbahasa Indonesia saban hari di sekolah.” Siswa-siswi SMP/MTS Manggarai, bisa”, optimis para guru muda ini.Di tingkat sekolah, sudah diselenggarakan seleksi awal,dan utusan dua orang dari  masing-masing sekolah mengikuti kegiatan final di Aula Dinas PPO Manggarai 4 Mei 2016.Penyisihan  di tingkat sekolah,para siswa memilih salah satu satu dari thema Prestasiku untuk Membangun Negeriku, dan  Aku Ata Manggarai Momang Indonesia( Aku Anak Manggarai Cinta Indonesia). Sedangkan di final.144 peserta dari 72 SMP/MTS menyaksikan video berthemakan nasionalisme selama 5 menit, dan langsung menyusun pidato selama 25 menit.

Kecuali memperingati Hardiknas, kegiatan ini juga bertujuan antara lain bertujuan  meningkatkan ketrampilan public speaking, menyalurkan minat, bakat, dan kreatifitas dalam berbahasa, dan membiasakan diri untuk berkompetisi sehat.

ASA SISWA MANGGARAI

Naluri kemanusiaan Guru SM3T Manggarai juga berhasil mendisain sebuah program Asa Siswa Manggarai (ASM)  sebagai salah satu upaya demi tercapainya  pemerataan infrastruktur pendidikan di daerah 3T, Manggarai.Kegiatannya diorientasikan ke jenjang SD/MI,sehingga para  siswa mendapatkan hak pendidikan yang layak,dan termotivasi menyelesaikan pendidikannya hingga berhasil.

Asa Siswa Manggarai, program kemanusiaan yang menolong siswa-siswi SD/MI di Manggarai mendapatkan  fasilitas belajar seperti tas sekolah, buku tulis, dan ATK lainnya yang nilainya Rp 20.000/siswa. Akhir Mei 2016 dimulai di SDI Ulu Belang Satar Mese.Estimasi biaya yang dibutuhkan hingga Rp 200 juta akan dibagikan kepada 1.000 peserta didik  SD/MI. Dana terkumpul dengan donasi mandiri mereka sebesar Rp 16 juta, sedangkan sisanya sedang diupayakan dukungan sponsor dan donatur.

KOMPIANG dan  Asa Siswa Manggarai  (ASM) adalah ozokerit, kandil yang  menerangi sisi gelap pendidikan yang selama ini menjadi “podok”(  lahan yang tidak digarap), demi   terwujudnya keinginan warga masyarakat mendapatkan pendidikan bermutu.

PENDIDIKAN GAWAT DARURAT: TERTINGGAL ATAU DITINGGALKAN

Oleh

_DSC0109 (2).JPG

Kosmas Takung

Pendidikan Indonesia gawat darurat.Mendikbud, Anies Baswean mengisyaratkannya di depan semua Kadis provinsi dan kabupaten /kota se-indonesia, Senin, 1 Desember 2014 di Kemdikbud sebagaimana diberitakan Kompas.com pada hari yang sama.

Indikatornya bahwa s 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan,nilai rerata kompetensi guru 44,5 padahal nilai standar kompetensi guru adalah 75. Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara pada pemetaan kualitas pendidikan menurut lembaga The Learning Curve
dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, berada pada  peringkat 49 dari 50 negara yang diteliti,masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012, tren kinerja pendidikan Indonesia pada pemetaan PISA pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan 2012, cenderung stagnan, menjadi peringkat 103 dunia negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap- menyuap dan pungutan liar. Juga disebutkan pada Oktober hingga November, 2014 angka kekerasan yang melibatkan siswa di dalam dan luar sekolah  mencapai 230 kasus.

Menariknya Mendikbud mengakui  kinerja buruk pemerintah yang perlu mendapat perhatian serius. “Kita semua bertanggung jawab. Kita harus turun tangan. Langkah yang harus kita kerjakan jangan tanggung-tanggung. Banyak hal yang harus kita ubah demi pendidikan Indonesia,” katanya.

Pengakuan Mendikbud seakan  juga ditunjukkan NTT dari hasil UN SMP/MTS, SMA/MA dan SMK TP 2015/2016.Analisa seorang Pengawas Sekolah Dinas PK, Drs. Jarwoto Dt, M.Ed memeringkat Kabupaten/ Kota se NTT.Untuk enam mata pelajaran  yang di UN-kan perjurusan,urutan sepuluh besar peringkat Kabupaten/Kota tingkat SMA adalah Manggarai Barat, Manggarai Timur,TTS,Manggarai,Kota Kupang, Sikka, Ngada,Flores Timur, Ende,Kabupaten Kupang dengan rerata nilai untuk enam mata pelajan adalah 50.85,50.72.45.22,44.12,42.02,42.00,41.22,40.74,39.55, dan 38.75.Sedangkan SMK adalah Sumba Barat Daya dengan rerata 176.81,Manggarai Timur 159.15,Kota Kupang 156.20,Manggarai  153.21,Sabu Raijua 148.81,Rote Ndao 141.14, Manggarai Barat 139.56,Lembata 133.18, TTU 132.39, dan Alor 130.32. Dua belas kabupaten lainnya mengekor saja.

Tingkat SMP untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan MAtematika,peringkat 1- 10  adalah,Rote Ndao,disusul Sabu Raijua,Manggarai Timur ,Alor , Manggarai Barat Sumba Barat Daya , Manggarai , TTS , Sumba tengah dan Malaka.

Menariknya demikian banyak siswa memperoleh nilai UN   di bawah satu hingga nol tetapi konon oleh satuan pendidikan tetap meluluskannya.Bisa terjadi karena kriteria kelulusan sebagaimana diatur dalam Permendikbud 57/2015 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pemerintah Melalui UN dan Penilaian Hasil Belajar Oleh Satuan Pendidikan Melalui Ujian Sekolah menyebutkan Kritertia Kelulusan Peserta Didik Dari Satuan Pendidikan dan Pencapaian Kompetensi Lulusan Melalui Ujian Nasional, tidak dicantumkan batasan nilai UN.Pasal 24 regulasi ini hanya menuliskan bahwa,peserta didik wajib menyelesaikan seluruh program pembelajaran,memperoleh nilai sikap minimal baik, dan lulus ujian sekolah.

Ujian Nasional Perbaikan,  bukan tidak mungkin seperti tahun sebelumnya sebagaimana Edaran BSNP tanggal 25 September 2015 Nomor 0062/SDAR/BSNP/I/2015 tentang SE UNP TP 2014/2015, tetap tidak berpengaruh bagi para pihak termasuk peserta UN untuk mendapatkan nilai UN lebih baik seperti  tiga tahun sebelumnya yang memiliki batasan terendah nilai UN untuk bisa lulus dari satuan pendidikan.UNP bukan sebagai wajib diikuti siswa yang berkompetensi ≤ 55.00.

Hasil UN NTT  3 tahun terakhir  ini berhubungan dengan ketercapaian SNP  daerah ini  yang ditakar melalui EDS online 3 tahun silam dengan rerata tingkat SMA   6,64 dan SMP 6,61 dalam skala 1-10.

Gawat Darurat Pendidikan jangan dibiarkan karena menciderai UU Sisdiknas No 20/2003, Pasal 5 ayat 1 “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu”.Regulasi lainnya adalah  PP 17 /2010 yang dirubah dengan PP 66 /2010 tentang Perubahan Atas PP Nomor 17 / 2010 Tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan,Gerakan Literasi sekolah sebagai implelemntasi Permendikbud 23/ 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Memasuki tahun pelajaran baru, perlu direfleksi, supaya pendidikan tidak tertinggal karena tinggalkan regulasi- regulai yang disusun dengan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

 

PKB PENGAWAS SEKOLAH: TANTANGAN YANG MERANGSANG

Keberadaan pengawas sekolah, – nama umum untuk semua jenis Pengawas Satuan Pendidikan, Pengawas Mata Pelajaran/ Rumpun Mata Pelajaran, Pengawas BK, serta Pendidikan Luar Biasa-, secara eksplisit dinyatakan dalam UU 20 /2003 tentang Sisdiknas  yang setidaknya tersirat dalam Pasal 66 (1)  Pemerintah, Pemerintah Daerah……. melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan ………...Dalam PP 19/ 2005 tentang SNP,  pasal 23 mdisebutkan bahwa pengawasan  proses  pembelajaran  sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal  19  ayat  (3)  meliputi  pemantauan,  supervisi,  evaluasi, pelaporan,  dan  pengambilan  ……., dan Pasal 24 Standar  Proses dalam Permendiknas 41/ 2007,pengawasan    meliputi pengawasan proses perencanaan  pembelajaran,  pelaksanaan pembelajaran, ……..dan di;lanjutkan dalam dasal 39 (1)  Pengawasan  pada  pendidikan  formal  dilakukan  oleh pengawas satuan pendidikan. dan 2)  Kriteria  minimal  untuk  menjadi  pengawas  satuan  pendidikan meliputi antara lain memiliki  sertifikat  pendidikan  fungsional  sebagai pengawas satuan pendidikan, lulus seleksi sebagai pengawas satuan pendidikan. Regulasi terakhir adalah Permendikbud 143/2014 tentang Juknis Jabatan Fungsional Pengawas sekolah dan Angka kreditnya  sebagai bagian tak terpisahkan dari PermenegPan&RB Nomor 21/2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.Regulasi lebih tua adalah Permendiknas 12/2007 tentang Standar Kompetensi dan Kualifikasi PS.Regulasi ini  mengatur Kompetensi Pengawas Sekolah, yakni kepribadian, ,supervisi manajerial,supervisi akademik,evaluasi pendidikan,litbang,dan sosial.Kompetensi-kompetensi inilah   yang memampukan para pengawas sekolah melaksanakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan( PKB).

Faktanya memang masih belum sesuai regulasi- regulasi ini.Kualifikasi pendidikan misalnya,masih bervariasi, mulai tingkat SMTA hingga S3 kependidikan.Kompetensinya juga demikian.idealnya para pengawas sekolah aktif melaksanakan PKB terutama untuk publikasi ilmiah dan karya inovative.Tetapi di khusus di NTT, masih tergolong langka ya,terbukti dengan referensi sederhana parade karya tulis di MPC NTT,  masih sangat sedikitnya  PS  dibanding guru dan kepala sekolah melaksanakan PKB.Padahal Cakrawala NTT sebagai salah satu media yang sangat memenuhi syarat melaksanakan PKB sebagaimana diatur dengan regulasi- regulasi yang ditentukan.

PKB idealnya  berdampak meningkatnya mutu pendidikan, tetapi di sisi lain para pengawas  sekolah juga harus belajar keras dengan menguras tiga organ berpikir , yakni tubuh –otak, jantung dan lambung sebagaimana ditulis Dr. Anil K. Rajvanshi dari Nimbkar Agricultural Research Institute (NARI), Phaltan, Maharashtra- India, (2011) tentang ‘berpikir’ yang berjudul ‘The Three Minds of The Body, yang jika kurang diperhatikan baik oleh para pengawas sekolah akan berisiko sakit.

Idealnya,semakin banyak belajar dan membaca, otak akan terlatih dan terangsang untuk berpikir. Hal ini akan mampu meningkatkan memori  karena merangsang indera otak beraktifitas untuk membaca, menjelajah internet sesuai  penelitian yang dilakukan di University of California ­ Los Angeles bahkarena  akan  merangsang otak untuk bekerja maksimal dalam membuat keputusan dengan pertimbangan­ pertimbangan yang kompleks,dan terus mempelajari hal- hal baru.

Berkepentingan

Melaksanakan PKB bagi pengawas sekolah,kecuali bagi peningkatan kompetensi dan profesionalime,juga demi terwujudnya kesejahteraan PS dan pendidikan bermutu bagi masyarakat.Dengan demikian, baik PS maupun pemerintah, sama-sama berkepentingan.Bahwa tugas pokok pengawas sekolah adalah membina guru, dan kepala sekolah,memantau pelaksanaan SNP,menilai, dan membimbing keprofesionalan guru,merupakan upaya pemerintah menjawab keinginan masyarakat.Bagi PS ,tugas ini akan dilakukan  baik tatkala para pengawas menginternalisasi kompetensi-kompetensi yang disyaratkan,yang antara lain aktif melaksanakan PKB yang didukung penuh pemeintah ,pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana ddiatur dalam PP 17 / 2010 yang dirubah dengan PP 66 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan.

Dukungannya  antara lain penyiapan sarana dan prasana serta fasilitas pendukung , pemberian ruang bagi PS  untuk dilatih menjadi nara sumber, instruktur atau fasilitator-fasiliotator pendidikan.Pengalaman menunjukkan, pelatihan fasilitator, nara sumber dan instruktur masih hanya melibatkan  guru dan kepala sekolah sehingga para pengawas cenderung dinilai kurang pintar dan stagnan.

Syukurlah, mencermati regulai- regulasi terakhir, PS didudukkan sebagai jabatan strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan.Jabatan ini hanya dapat diiduduki para guru yang lulus seleksi administrasi oleh pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan lulus seleksi akademik yang dilakukan oleh Kemdikbud, serta para calon wajib mengikuti kegiatan pendampingan oleh mentor selama melaksanakan praktek pengawasan sekolah.

.

CAKRAWALA PENDIDIKAN DI NEGERI TITIPAN TUHAN

Oleh

 

Kosmas Takung

Pengawas Bimbingan dan Konseling Dinas PPO Manggarai

Nusa Tenggara Timur.Singkat sebutannya,NTT.Teman- teman di media sosial sering menyebutnya bangga.Bangga memiliki provinsi kepulauan,Flobamorata.karena sebagai Negeri Titipan Tuhan. Walaupun tergolong  provinsi dengan jumlah penduduk yang jarang,namun tanahnya subur walau tergolong  kekurangan air, namun tetap  mampu  menyiapkan dan menjanjikan sejuta kehidupan untuk warganya, dan sejuta  lainnya belum terjamahkan. Berjubelan warga  luar datang  dari seantero nusantara bahkan dunia mengais rejeki mendapatkan pekerjaan yang disiapkan untuk kehidupan.Tak terhitung uang negara mengalir membesarkan daerah ini yang bertujuan mulia, mensejahterakan rakyat yang menyebutmu sebagai tanah lelulur dan tanah tumpah darahnya.Sehingga uang sebesar itu akhirnya sama- sama dinikmati, baik bagi yang bertumpah darah NTT maupun sesama saudaranya yang hanya “bermigrasi” sementara.Siapapun tahu keistimewaan yang sulit ditemukan di daerah lain bahwa Negeri Titipan Tuhan ini bak firdaus,kecuali alamnya yang diciptakan demikian subur dan serba indah  mempesona, juga parameter dan surganya toleransi kehidupan sosial dan keagamaan.

Bongkahan tanah ciptaan Tuhan yang dinamai Flores,Sumba,Timor,Alor dan Lembata serta lainnya menghiasi cakrawala negeri kepulauan,permata satu-satunya di dunia dengan keunikannya seperti binatang komodo,danau triwarna Kelimutu,wewangian cendana, alat musik tradisional yang mendunia sasando,tanamankenari, dan pesona lainnya yang mengundang decak kagum warga dunia.Di tengah keistimewaan Negeri Titipan Tuhan ini, ada yang iri hati dan cemburu sehingga kadang-kadang melihatnya dengan sebelah mata dan melabelnya dengan Nanti Tuhan Tolong. Mereka tidak tahu malu,sebab justru mereka yang hidup dan menguras isi perut buminya, tak terhitung nilai uang dan kekayaan berlimpah yang mereka peroleh, seperti antara lain emas,mangan, dan jenis lainnya.

Kecenderungan Negeri Titipan Tuhan sebagai destinasi orang mengais rejeki bukan tidak mungkin disebabkan di belahan lain negeri dan dunia ini karena munculnya bencana banjir, kebakaran hutan yang mengakhibatkan gersangnya sejumlah lahan pertanian dan bencana asap yang mengancam nyawa dan  kehidupan, ditambah maraknya praktek demoralisasi dan dehumanisasi lainnya.Nilai-nilai kehidupan dipretel perlahan-lahan dan ruang mendapatkan matapencaharian semakin sempit.Di Negeri Titipan Tuhan, Flobamorata bisa mendapatkannya dengan leluasa.Hebatkan NTT-ku???

Wajah Sayu Pendidikan

Menghargai  dan mewariskan keistimewaan Negeri Titipan Tuhan,Nusa Tenggara Timur antara lain hanya dapat dilaksanakan tatkala pendidikan di daerah ini memiliki mutu yang baik,setidaknya ada pada barisan provinsi-provinsi yang lebih baik mutu pendidikannya dengan parameternya adalah hasil Ujian Nasional saban tahun.

Disadari bahwa mimpi NTT itu membutuhkan proses panjang untuk dapat meraihnya.Sebab, bukan tidak mungkin,untuk mendapatkan pendidikan bermutu,bak mimpi Indonesia yang mendambakan kulitas persepakbolaan Nusantara sejajar dengan negara pesepak bola dunia,minimal pada barisan negara-negara elit sepak bola dunia.Sebab,konon  peringkat sepak bola Indoneia dalam kancah persepakbolaan dunia  masih berada pada peringkat 180, di bawah Timor Leste dan Malaysia,  170 dan 171,  jauh di bawah Brasil yang memuncakinya.Padahal kompetisi antar klub saban waktu dilaksanakan, mendapat dukungan pemerintah dengan fasilitas lapangan sepak bola yang tergolong mewah.Bahkan masyarakat luas pun tidak sedikit membantunya.Pesepak bola profesional dunia pun  diimport, bergabung dengan klub-klub sepak bola yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Hasilnya tetap saja latah sebagaimana kita saksikan.

Mutu  pendidikan Bumi Flobamorata, mirip benar dengan mutu persepakbolaan Indonesia. Sejarah panjang pendidikan yang ditorehkan provinsi ini dengan mudah  dibaca pada deretan hasil UN saban tahun, yang selalu saja berada di posisi buntut.Secara psikologis, keadaan ini bukan tidak mungkin berpengaruh pada menurunnya kondisi psikologis peserta didik  karena selama mengeyam pendidikan, dibayangi rasa takut  mendapatkan hasil UN jelek.Karenanya tidak heran jika   mereka selalu cemas dan bukan tidak mungkin inferioritas dan pesimis akan masa depannya  karena selalu berkutat dengan pengalaman pendidikan yang kurang kondusif..

Jujur diakui bahwa ketercapaian Standar Nasional Pendidikan NTT sebagaimana diatur dalam PP 19/2005 yang sudah beberapa kali dirubah ,belum optimal.Setidaknya hanya Standar Isi yang pelaksanaannya baik, sementara 7 standar lainnya belum optimal sehingga tidak heran hasil UN kita selalu di posisii deretan buntut.Hasil UN 2015 membuktikannya, SMP berada pada peringkat  31 ,SMA pada peringkat 34, dan SMK pada peringkat  26 dari 34 provinsi di Indonesia.Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Sinun Petrus Manuk mengungkapkannnya akhir tahun 2015 silam di Hotel Kristal Kupang di depan peserta Musyawarah Besar Pendidikan dan Kebudayaan NTT yang dihadiri Sekda Kabupaten/ Kota, Kadis PPO/PK,Korwas, Kepala Sekolah dan Guru se Provinsi NTT.

Memperbaiki mutu pendidikan, sebenarnya mudah dilaksanakan, karena regulasinya sudah disiapkan.Tinggal bagaimana aturan-aturan itu ditegakkan dan dibatinkan,mulai dari pengambil kebijakan hingga praksisnya hingga level satuan pendidikan.Regulasi-regulasi pendidikan demikian banyak,mulai dari UUD 1945 hinga sejumlah Permendikbud keluaran sepanjang tahun 2015.

Sebahagaian regulasi pendidikan itu diangkat dalam tulisan ini.PP 74/2008 tentang Guru.Guru sebagaimana diatur dalam regulasi ini adalah guru  mengajar,guru BK, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.Disebutkan Pasal  17 ayat(1) Guru Tetap pemegang Sertifikat Pendidik berhak mendapatkan tunjangan profesi apabila mengajar di satuan pendidikan yang rasio minimal jumlah peserta didik terhadap gurunya adalah: untuk TK, RA, atau yang sederajat , MI atau yang sederajat ,MTs atau yang sederajat,SMK dan MAK 15 : 1; sedangkan SD atau yang sederajat ,SMP atau yang sederajat   SMA atau yang sederajat 20:1.

Yang dekat dengan regulasi ini, adalah Standar Proses yang diatur dengan Permendiknas 41/2007 di mana Jumlah maksimal peserta didik dalam proses pembelajaran adalah bahwa setiap rombongan be­lajar adalah SD/MI : 28 peserta didik,SMP/MT : 32 peserta didik,sedangkan SMA/MA dan SMK/MAK masing-masingnya adalah 32 peserta didik.

Dengan demikian, jika ada satuan pendidikan yang rombongan belajarnya memilki peserta didik lebih dari ketentuan di atas, dipastikan bahwa mutu KBM kurang baik karena peserta didik tidak mengalami proses pembelajaran.Hal seperti ini bisa terjadi, dan bukan tidak mungkin satuan pendidikannya lebih mengutamakan BOS untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Dalam kondisi demikian,PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota,seharusnya bisa ditegakkan.

Regulasi lainnya adalah Permendiknas 12 dan 13 Tahun 2007 yang mengatur tentang Kualifikasi Pengawas dan Kepala Sekolah yang diikuti  Permendiknas 28/2010 tentang Pemberian Tugas Tambahan kepada Guru sebagai Kepala Sekolah serta PermenegPan & Reformasi Birokrasi Nomor 16/2009 dan 21/2009.Kedua regulasi terakhir ini mengatur tentang Jabtan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya serta Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya yang antara lain mewajibkan guru,Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah melaksanakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan,belajar terus.Sialnya, masih saja ada di antara mereka  yang belum mampu mengejawantahkan regulasi- regulasi ini.Regulasi pendidikan,harus ditegakkan.

 

Tegar Tengkuk

Menjelajahi sejarah mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur dengan melihat hasil akhir UN saban tahun,daerah ini tergolong tegar tengkuk.Sebab,upaya-upaya pembangunan pendidikan dari tahun  ke tahun seakan belum menjawab kebutuhan pendidikan yang bermutu.Standar Pelayanan Minimal, Standar Nasional Pendidikan yang selalu ditakar melalui Evaluasi Diri Sekolah, Akreditasi, Ujian Nasional dan lain-lain  belum menggugah para pihak untuk membenahi pendidikan secara serius hingga bisa berkompetisi tidak hanya tingkat lokal di NTT tetapi hingga tingkat nasional.

Tetapi kita optimis. Negeri Titipan Tuhan  Nusa Tenggara Timur dalam Ujian Nasional tahun 2016,dilihat  dari seluruh geliat aktivitas pendidian sepanjang tahun 2015/2016 dengan mengikutsertakan  semua satuan pendidikan dalam kegiatan nasional pendidikan, tingkat provinsi bahkan kabupaten /kota melalui Program BERMUTU, TEQIP,PRODEP dan kegiatan wadah kerja guru,Kepala Sekolah dan pengawas Sekolah,hasil UN membaik.Semoga.